Gak Perlu Pusing Hitung Jejak Karbon, Kini Pengguna Transportasi Umum Bisa Cek Otomatis Lewat SanPay Karya Mahasiswa UPER!

- Pewarta

Sabtu, 15 November 2025 - 14:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, BAPERS.ID — Di tengah kebutuhan publik akan alat pemantau emisi yang praktis, mahasiswa Universitas Pertamina (UPER) mengembangkan kartu pembayaran yang mampu menghitung jejak karbon setiap transaksi secara instan. Inovasi ini menjadi semakin relevan mengingat temuan United Nations (2023) yang menunjukkan bahwa individu di kota besar rata-rata menghasilkan 20–30 kilogram CO₂ per hari, atau setara 7–10 ton CO₂ per tahun—angka yang sebagian besar berasal dari pola konsumsi sehari-hari.

Ialah Sandi Pamungkas, mahasiswa Program Studi Ekonomi UPER, yang menciptakan SanPay— platform pembayaran hijau yang mendorong masyarakat kota berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan melalui setiap transaksi. Berkolaborasi dengan Singapore Management University, ia mengintegrasikan teknologi carbon-tracking yang mampu mengestimasi jejak karbon dari tiap pembelian secara otomatis, sehingga pengguna dapat melihat hubungan langsung antara pola konsumsi dan emisi yang mereka hasilkan

Dokumentasi: Kartu Sanpay dapat dipakai sebagai alat pembayaran di transportasi umum, salah satunya KRL Jabodetabek
Dokumentasi: Kartu Sanpay dapat dipakai sebagai alat pembayaran di transportasi umum, salah satunya KRL Jabodetabek

“AI Carbon Calculation Engine memungkinkan SanPay menaksir jejak emisi dari setiap transaksi secara real time. Sistem ini menggabungkan kategori belanja dan faktor emisi produk, sehingga pengguna bisa melihat dampak lingkungan dari pola konsumsi mereka dengan lebih jelas. Pengembangan sistem ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kesadaran masyarakat terhadap emisi harian yang mereka hasilkan—padahal perubahan perilaku kecil dapat memberikan dampak besar ketika dilakukan secara kolektif,” ujar Sandi.

Penggunaan SanPay dilakukan melalui kartu transaksi yang terhubung dengan metode pembayaran digital seperti e-wallet dan kartu debit. Saat pengguna melakukan aktivitas harian—mulai dari berbelanja, membeli makanan, hingga melakukan perjalanan—setiap transaksi akan tercatat dan diproses oleh sistem. Nominal dan kategori belanja tersebut kemudian dikalkulasi oleh mesin berbasis AI untuk mengestimasi jejak karbonnya. Hasil perhitungan itu selanjutnya dikonversi menjadi poin keberlanjutan (Green Carbon) sebagai bentuk apresiasi atas penerapan gaya hidup ramah lingkungan.

SanPay kini memasuki tahap uji coba dan sudah digunakan untuk pembayaran transportasi umum di Jakarta, termasuk MRT. Setiap perjalanan menghasilkan 15 poin keberlanjutan yang dapat ditukar menjadi saldo Rp1.000 setelah mencapai 100 poin. Poin ini berasal dari kalkulasi jejak karbon harian pengguna, yang kemudian dikonversi menjadi kredit karbon. Dengan estimasi bahwa satu ton karbon dapat bernilai 5 hingga 15 dolar, SanPay berpotensi menghasilkan keuntungan signifikan—dengan seribu pengguna saja, nilai kredit karbon yang dihasilkan bisa mencapai sekitar 109 ribu dolar.

“Penukaran poin ini adalah bentuk apresiasi bagi pengguna yang menerapkan mobilitas rendah emisi. Setiap transaksi otomatis dihitung jejak karbonnya dan dikonversi menjadi kredit karbon yang berpotensi dijual di pasar karbon sukarela, sehingga pengguna tidak hanya mengurangi emisi tetapi juga berkontribusi pada ekonomi hijau,” ujar Sandi.

Berkolaborasi dengan perusahaan telekomunikasi global, Ericsson, SanPay tengah memasuki tahap pengembangan teknologi yang mencakup peningkatan kinerja sistem, penyempurnaan pemodelan data, dan perluasan fitur agar dapat digunakan untuk kebutuhan transaksi harian yang lebih beragam, termasuk pembelian di supermarket. Dukungan ini juga diwujudkan melalui pengembangan laman resmi SanPay di https://sandipmks.github.io/SanPay/

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., mengapresiasi inovasi tersebut yang dinilai sejalan dengan komitmen UPER dalam pengembangan teknologi berkelanjutan serta penguatan performa kampus pada THE Impact Rankings yang menilai kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian SDGs.

“Keberhasilan ini juga mencerminkan konsep pembelajaran yang diterapkan dalam kurikulum Universitas Pertamina, termasuk peminatan energy and economic sustainability di Prodi Ekonomi UPER, yang mendorong mahasiswa menghasilkan solusi yang relevan bagi tantangan keberlanjutan,” ujar Prof. Wawan.

Berita Terkait

Rangka Atap Baja Ringan SD Negeri 155 Gandus Dipertanyakan, Anggaran Rp2,8 Miliar Disorot
Cibuntu Tunjuk Kuasa Hukum, Siapkan Somasi atas Konten Viral Dana Desa
Hadapi Variasi Ukuran Produk Tekstil, Mahasiswa UPER Rancang Alat Bantu Quality Control
Waspada Provokasi: Massa Aksi 27 Agustus Harus Menjaga Kemurnian Suara Rakyat  
Dana Kelurahan Rp1,4 Miliar dipertanyakan, 4 bulan tak jelas: Camat Martapura Dikecam Karena dinilai Lamban beri Penjelasan
PWRI Bogor Raya Mantapkan Langkah: Rohmat Selamat Tegaskan Era Baru Organisasi yang Solid dan Profesional
Proyek Drainase Jalan Ali Gatmir Disorot: Kualitas dan Transparansi Dipertanyakan, Wartawan Klaim Dapat Intimidasi
Perkuat Industri Berkelanjutan, UPER Gandeng Multipihak Terapkan Kimia Hijau
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 13:18 WIB

Rangka Atap Baja Ringan SD Negeri 155 Gandus Dipertanyakan, Anggaran Rp2,8 Miliar Disorot

Kamis, 27 Agustus 2026 - 13:59 WIB

Hadapi Variasi Ukuran Produk Tekstil, Mahasiswa UPER Rancang Alat Bantu Quality Control

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:21 WIB

Waspada Provokasi: Massa Aksi 27 Agustus Harus Menjaga Kemurnian Suara Rakyat  

Rabu, 26 Agustus 2026 - 04:15 WIB

Dana Kelurahan Rp1,4 Miliar dipertanyakan, 4 bulan tak jelas: Camat Martapura Dikecam Karena dinilai Lamban beri Penjelasan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 22:23 WIB

PWRI Bogor Raya Mantapkan Langkah: Rohmat Selamat Tegaskan Era Baru Organisasi yang Solid dan Profesional

Berita Terbaru

Kabupaten Bogor

Senin, 7 Sep 2026 - 16:33 WIB