MUTIARA HIKMAH BES: JANGAN HANYA MENGHITUNG HARI, SIAPKAN BEKAL UNTUK HARI ESOK

- Pewarta

Senin, 10 Agustus 2026 - 07:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MUTIARA HIKMAH BES: JANGAN HANYA MENGHITUNG HARI, SIAPKAN BEKAL UNTUK HARI ESOK

Prof Dr.H.Eggi Sudjana 

Ketika waktu terus berjalan, setiap amal, ucapan, bahkan tulisan akan menjadi bagian dari catatan kehidupan

BOGOR | Mata Pena News – Waktu tidak pernah berhenti. Hari berganti hari, usia bertambah, sementara kesempatan hidup semakin berkurang. Di tengah kesibukan mengejar dunia, manusia kerap lupa bahwa ada satu perjalanan panjang yang justru harus dipersiapkan sejak sekarang: perjalanan menuju akhirat.

Pesan itulah yang menjadi inti Mutiara Hikmah Prof. Dr. BES, Senin 10 Agustus 2026, dengan mengajak umat Islam melakukan muhasabah dan bertanya kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya telah dipersiapkan untuk hari esok?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Hasyr: 18)

Ada satu kalimat dalam ayat tersebut yang layak menjadi bahan renungan mendalam:

“WALTANZHUR NAFSUN MAA QADDAMAT LIGHAD”

Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.

Menurut pesan Mutiara Hikmah BES, ayat ini seakan mengajak manusia melakukan “audit kehidupan”.

Bukan hanya menghitung berapa uang yang berhasil dikumpulkan.

Bukan hanya menghitung berapa jabatan yang pernah diduduki.

Bukan hanya menghitung berapa banyak penghargaan yang pernah diterima.

Tetapi lebih jauh, berapa banyak amal yang telah dipersiapkan untuk kehidupan setelah kematian.

WAKTU: HARTA YANG TIDAK BISA DIBELI KEMBALI

Manusia dapat kehilangan harta kemudian mencarinya kembali. Jabatan dapat hilang dan mungkin diperoleh kembali. Namun waktu yang telah berlalu tidak pernah bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.

Allah SWT bahkan bersumpah dengan waktu:

وَالْعَصْرِ ۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ ۙ

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”

(QS. Al-‘Asr: 1-2)

Karena itu, persoalan terbesar bukan berapa panjang umur seseorang, tetapi apa yang dilakukan selama umur itu berlangsung.

Satu hari yang sama dapat menjadi jalan menuju keberkahan bagi seseorang, tetapi menjadi kerugian bagi orang lain.

Satu jam yang sama dapat digunakan untuk menolong orang lain, menuntut ilmu, bekerja dengan jujur, menulis sesuatu yang bermanfaat, atau justru dihabiskan untuk sesuatu yang tidak memberikan nilai bagi kehidupan dunia maupun akhirat.

BEKAL AKHIRAT TIDAK HARUS BESAR, TETAPI HARUS BERMANFAAT

Islam mengajarkan bahwa amal yang dilakukan dengan ikhlas dan memberikan manfaat memiliki nilai yang besar.

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara.”

Yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

(HR. Muslim)

Hadis tersebut mengandung pelajaran penting: manusia tidak hanya perlu meninggalkan harta, tetapi juga meninggalkan manfaat.

Sebuah ilmu yang diajarkan.

Sebuah tulisan yang mencerdaskan.

Sebuah buku yang menginspirasi.

Sebuah berita yang membuka mata masyarakat.

Sebuah kebaikan yang membuat orang lain berubah menjadi lebih baik.

Semua itu dapat menjadi bagian dari jejak kehidupan yang bernilai apabila dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan agama.

KETIKA PENA MENJADI SAKSI

Menariknya, pembahasan tentang “hari esok” tersebut memiliki hubungan erat dengan pena.

Allah SWT berfirman:

نٓ ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَ

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.”

(QS. Al-Qalam: 1)

Allah juga berfirman:

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

(QS. Al-‘Alaq: 4-5)

Pena bukan sekadar benda. Tulisan dapat menjadi warisan ilmu, dokumentasi sejarah, sarana pendidikan, sekaligus jalan menyampaikan kebenaran.

Tetapi pena juga memiliki konsekuensi.

Apa yang ditulis hari ini dapat dibaca orang lain besok. Bahkan di era digital, sebuah tulisan dapat tersimpan, disebarluaskan, dan dibaca oleh orang yang tidak pernah kita kenal.

Karena itu, setiap penulis semestinya menyadari bahwa kemampuan menulis adalah amanah.

MATA PENA: MELIHAT SEBELUM MENULIS

Dalam konteks tersebut, nama MATA PENA yang digunakan para kader wartawan dan penulis di Bogor memiliki filosofi yang menarik.

MATA adalah simbol melihat realitas.

PENA adalah simbol menyampaikan apa yang dilihat melalui tulisan.

Namun, antara melihat dan menulis terdapat satu kata yang sangat penting: TABAYYUN.

Allah SWT berfirman:

فَتَبَيَّنُوْٓا

“Maka telitilah kebenarannya.”

(QS. Al-Hujurat: 6)

Artinya, seorang wartawan tidak boleh sekadar melihat lalu menulis. Ia harus memeriksa fakta, melakukan verifikasi, meminta konfirmasi, membedakan fakta dan opini, serta memberikan informasi secara bertanggung jawab.

Sebab satu berita yang benar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Sebaliknya, satu informasi yang keliru dapat merugikan nama baik seseorang, menimbulkan keresahan, bahkan memicu konflik.

PENA BISA MENJADI AMAL, BISA PULA MENJADI BEBAN

Inilah renungan yang paling penting.

Tidak semua tulisan otomatis menjadi amal saleh.

Tulisan yang mengandung ilmu dan manfaat dapat menjadi kebaikan.

Sebaliknya, tulisan yang berisi fitnah, kebohongan, tuduhan tanpa dasar, penghinaan, atau informasi yang menyesatkan dapat menjadi beban pertanggungjawaban.

Allah SWT mengingatkan:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”

(QS. Qaf: 18)

Pesannya menjadi semakin relevan di zaman media digital.

Dulu seseorang membutuhkan waktu untuk mencetak sebuah tulisan. Sekarang, cukup dengan satu sentuhan layar, sebuah berita dapat tersebar ke ribuan orang.

Maka semakin besar jangkauan sebuah pena, semakin besar pula tanggung jawab moral orang yang menggunakannya.

MATA PENA DAN JIHAD MELAWAN KEBODOHAN

Karena itu, MATA PENA dapat dimaknai bukan sekadar sebagai identitas sebuah komunitas wartawan atau penulis.

MATA PENA adalah sebuah filosofi:

MATA untuk melihat.

AKAL untuk menilai.

HATI untuk menimbang.

PENA untuk menyampaikan.

IMAN untuk mengendalikan.

Dengan prinsip tersebut, karya jurnalistik tidak hanya mengejar jumlah pembaca, tetapi juga menghadirkan kebenaran, edukasi, kontrol sosial, dan kemaslahatan masyarakat.

Di sinilah profesi menulis memiliki dimensi pengabdian.

Sebab seorang penulis mungkin tidak mengetahui siapa saja yang akan mendapatkan manfaat dari tulisannya. Namun sebuah tulisan yang baik dapat terus dibaca, dipelajari, dan memberikan manfaat bahkan ketika penulisnya sudah tidak lagi berada di dunia.

PERTANYAAN UNTUK KITA SEMUA

Mutiara Hikmah BES akhirnya mengajak setiap orang melakukan introspeksi.

Sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri:

Apa yang telah saya lakukan hari ini untuk hari esok?

Apa ilmu yang saya pelajari?

Kebaikan apa yang saya berikan?

Siapa yang telah saya bantu?

Dan bagi seorang penulis: apa yang telah saya tuliskan hari ini?

Apakah tulisan itu mencerdaskan?

Apakah tulisan itu menghadirkan kebenaran?

Apakah tulisan itu memberi manfaat?

Ataukah justru menjadi sesuatu yang kelak harus dipertanggungjawabkan?

Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan.

Dan pena bukan hanya tentang berapa banyak kata yang kita tuliskan, tetapi tentang kebenaran dan manfaat apa yang kita wariskan.

MATA melihat dunia. PENA merekam zaman. IMAN menentukan arah.

Semoga setiap langkah menjadi amal, setiap ilmu menjadi manfaat, dan setiap tulisan menjadi bagian dari bekal menuju “hari esok” yang sesungguhnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Prof. Dr. BES

Mutiara Hikmah

 

Berita Terkait

Jemput Bendera Pusaka, Bupati Bogor Ajak Masyarakat Hidupkan Kembali Semangat Perjuangan Pahlawan
Tasyakuran dan Peresmian Kantor Cabang Mata Pena Group Jadi Momentum Perkuat Sinergi dan Kepedulian Sosial
VIRAL! Gedung RS Sukajadi Rusak Parah, Anggaran Pemeliharaan Rutin Mengalir, Uang Negara Dipakai untuk Apa?
Diduga Peredaran Narkoba di Desa Karang Agung Disertai Ancaman Sajam, Warga Minta Polda Sumsel Bertindak
Wisuda STAI Sirojul Falah Bogor Kukuhkan Sarjana dan Magister PAI, Siap Mengabdi untuk Umat dan Bangsa
DIDUGA PENYIMPANGAN PEKERJAAN JALAN RABAT BETON DI DESA WAYHALOM, WARGA MINTA INSPEKTORAT DAN APH LAKUKAN PEMERIKSAAN
MASYARAKAT DESAK PEMERINTAH: JEMBATAN RUSAK DI DESA NUSA JAYA TERLANTAR LEBIH DARI DUA TAHUN, WARGA MINTA PENANGANAN SEGERA
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 07:36 WIB

MUTIARA HIKMAH BES: JANGAN HANYA MENGHITUNG HARI, SIAPKAN BEKAL UNTUK HARI ESOK

Minggu, 9 Agustus 2026 - 17:20 WIB

Jemput Bendera Pusaka, Bupati Bogor Ajak Masyarakat Hidupkan Kembali Semangat Perjuangan Pahlawan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:57 WIB

Tasyakuran dan Peresmian Kantor Cabang Mata Pena Group Jadi Momentum Perkuat Sinergi dan Kepedulian Sosial

Kamis, 6 Agustus 2026 - 20:35 WIB

VIRAL! Gedung RS Sukajadi Rusak Parah, Anggaran Pemeliharaan Rutin Mengalir, Uang Negara Dipakai untuk Apa?

Kamis, 6 Agustus 2026 - 18:54 WIB

Diduga Peredaran Narkoba di Desa Karang Agung Disertai Ancaman Sajam, Warga Minta Polda Sumsel Bertindak

Berita Terbaru