BAPERS. ID – Di lereng pegunungan Muria, Kabupaten Jepara, terdapat sebuah desa yang sering disebut sebagai potret kerukunan beragama: Desa Tempur. Keunikan desa ini tampak dari keberadaan sebuah masjid dan Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) yang berdiri saling berhadapan, hanya dipisahkan oleh jalan kecil selebar sekitar tiga meter.
Masyarakat Desa Tempur mayoritas memeluk agama Islam, sementara sebagian lainnya beragama Kristen. Perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi pemisah, justru menjadi pengikat kebersamaan. Mereka hidup rukun, saling menghormati, dan mendukung satu sama lain, termasuk dalam merayakan hari-hari besar keagamaan.
Masjid dan gereja di desa ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga ikon perdamaian. Wisatawan yang berkunjung kerap mengabadikan pemandangan indah itu sebagai simbol toleransi yang hidup nyata di tengah masyarakat.
Kerukunan di Desa Tempur mengajarkan bahwa toleransi, penghormatan, dan sikap saling mendukung adalah kunci menjaga harmoni sosial. Desa ini membuktikan bahwa perbedaan agama tidak harus menjadi sekat, melainkan bisa menjadi dasar bagi kehidupan berdampingan yang damai.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Larang Pejabat Menggelar Open House Mewah saat Lebaran
Polsek Nanggung membubarkan sekelompok pemuda yang diduga akan melakukan bentrokan sarung
Ketua IT Kadin Jaksel Ridwan Rifai : Penjualan Laptop dan PC Lesu di 2026, Harga RAM Jadi Pemicu
Yuda
Penulis : Yuda






