Cisarua | BAPERS.ID – Suhu udara di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, terasa lebih dingin dari biasanya selama musim kemarau. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu minimum di wilayah tersebut pada akhir Juli 2026 tercatat mencapai 16 derajat Celsius.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Citeko, Fatuhri, menjelaskan bahwa kondisi udara dingin yang terjadi pada malam hingga dini hari di kawasan Puncak merupakan fenomena yang normal dan lazim terjadi setiap musim kemarau.
Menurutnya, fenomena tersebut dipengaruhi oleh pergerakan semu tahunan matahari. Pada periode Juli hingga Agustus, posisi matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU), sehingga Benua Asia mengalami musim panas, sementara Benua Australia memasuki musim dingin.
Baca Juga:
“Ketika Australia mengalami musim dingin, tekanan udara di wilayah tersebut menjadi lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Akibatnya, angin monsun Australia yang bersifat dingin dan kering bertiup dominan ke wilayah Indonesia,” ujar Fatuhri, Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan, angin monsun Australia membawa massa udara dengan kandungan uap air yang rendah. Dampaknya, curah hujan berkurang dan sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau.
Selain itu, berkurangnya tutupan awan pada musim kemarau membuat sinar matahari lebih leluasa memanaskan permukaan bumi pada siang hari sehingga udara terasa lebih panas dan kering.
Sebaliknya, saat malam hari, minimnya awan menyebabkan panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer. Kondisi tersebut, ditambah hembusan angin dingin dari Australia, membuat suhu udara turun lebih signifikan dibandingkan saat musim hujan.
Baca Juga:
Dugaan Penyimpangan Dana Desa Margo Rejo Disorot, Warga Desak Audit Menyeluruh dan Penegakan Hukum
BMKG Citeko juga mencatat bahwa suhu minimum di kawasan Puncak pada akhir Juli 2026 mencapai 16 derajat Celsius. Penurunan suhu tersebut turut memicu munculnya fenomena embun beku atau bediding di sejumlah kawasan lereng Gunung Gede Pangrango.
“Dengan sedikitnya awan pada malam hari, radiasi panas dari permukaan bumi tidak tertahan sehingga udara terasa lebih dingin,” tutup Fatuhri.
Red






