Berharap Ekonomi Indonesia (Tidak) Baik?

- Pewarta

Minggu, 22 Februari 2026 - 17:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berharap Ekonomi Indonesia (Tidak) Baik?

 

Oleh : Salamuddin Daeng

BAPERS.ID – Sedikit negara yang dapat bertahan dengan kondisi ekonomi yang stabil dalam keadaan dunia yang bergejolak dewasa ini. Indonesia adalah salah satu yang bisa bertahan sementara yang lain goyah dan ada juga yang patah kaki-kaki ekonominya.

 

Data dari bank dunia memperlihatkan data proyeksi mereka terkait ekonomi Indonesia yang diperkirakan tetap tumbuh di 5,3% tahun 2025, lalu 5,2% tahun 2026 dan 5,2% tahun 2027. Walau sedikit menurun, namun relatif stabil dibandingkan negara lain yang sangat dekat dengan ekosistem lingkungan strategis Indonesia.

 

Mari kita lihat ekonomi China. Tahun 2024 ekonomi China tumbuh 5,0% tahun 2025 tumbuh 4,9% tahun 2026 diperkirakan tumbuh 4,4% dan tahun 2027 China hanya akan tumbuh 4,2%. China mengalami _natural slowdown decline_ setelah masa ekspansi yang panjang.

 

Secara logika jika ekonomi China menurun maka seharusnya ekonomi Indonesia menurun. Hal ini dikarenakan sebagian besar ekspor Indonesia adalah ke China, dan dari total impor Indonesia sebagian besar berasal dari China.

 

Namun beberapa kebijakan penting Indonesia berhasil mengatasi penurunan yang mendalam terutama melalui program-program yang merelokasi APBN untuk didistribusikan ke sektor rakyat yang berdampak sangat luas yakni MBG, koperasi merah putih, dan program perumahan seperti KUR Perumahan dan Fasilitas Liquiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Selanjutnya Tahun 2026 bisa menjadi momentum bagi pertumbuhan dengan adanya alokasi Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) sebanyak 500 ribu rumah akan direnovasi oleh pemerintah.

 

Namun negara lain belum dapat mengatasi penurunan ekonomi. Tetangga kita Malaysia banyak dipuji-puji di medsos belakangan terkait ekonomi mereka yang melompat, ternyata juga tidak sesuai fakta. Ekonomi Malaysia memang sempat tumbuh dari tahun 2023 3,5% menjadi 5,1% pada tahun 2024. Namun tahun 2025 pertumbuhan ekonomi negara ini diperkirakan kembali ke 4,1% dan pada tahun 2026 sebesar 4,0%.

 

Ekonomi Thailand pun demikian mengalami kesulitan. Tahun 2024 Thailand tumbuh 2,5% menurun menjadi 2,0 persen di 2025, dan diperkirakan menurun menjadi 1,8% di 2026.

 

Ekonomi dengan keadaan biasa-biasa saja adalah Amerika Serikat dan Eropa. Tahun 2025 Amerika Serikat menurun menjadi 2,1%. Tahun 2026 2,2% dan tahun 2027 diperkirakan hanya 1,9%. Sementara Zona Eropa tahun 2025 tumbuh 1,4%, tahun 2026 tumbuh 0,9% dan tahun 2027 diperkirakan hanya tumbuh 1,2%.

 

Jadi memang berbagai kalangan akan memiliki ekspektasi yang beragam terhadap ekonomi Indonesia. Mungkin ada negara yang berharap kita jatuh. Ada juga pihak yang berharap ekonomi guncang bergejolak. Tapi mau bagaimana lagi data ekonomi menunjukkan keadaan ekonomi kita biasa-biasa saja.

Menjelang puasa tidak ada inflasi yang terlalu bahkan beberapa komoditas deflasi. Jadi ekonomi nasional Indonesia di tengah gejolak global tetap adem ayem.

Jks

Berita Terkait

Ajak Generasi Muda Terus Berinovasi, Direktur SDM Pertamina Tekankan Karya yang Bernilai Tambah
Berjaya di Kompetisi Humas Nasional, Tiga Srikandi UPER Raih Juara 1 Lewat Strategi Komunikasi Krisis
Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Perlu Diversifikasi Energi, Tak Cukup Kendaraan Listrik
RSUD Bakti Pajajaran Perkuat Layanan DSA dan Cath Lab Biplane
Bupati Bogor Rudy Susmanto Siap Bersinergi dengan Kapolda Jabar yang Baru, Jaga Keamanan dan Kondusivitas Wilayah
Bupati Bogor Matangkan Persiapan Peparda VII Jabar 2026 , Sekalian Rencana Pembangunan Rumah Istimewa Bagi Para Atlet
PUBLIKASI KINERJA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BOGOR TAHUN 2026  
PWRI BOGOR RAYA MELAKUKAN KEGIATAN AUDENSI KE RSUD LEUWILIANG SINERGI DEMI PELAYANAN WARGA
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:29 WIB

Ajak Generasi Muda Terus Berinovasi, Direktur SDM Pertamina Tekankan Karya yang Bernilai Tambah

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:01 WIB

Berjaya di Kompetisi Humas Nasional, Tiga Srikandi UPER Raih Juara 1 Lewat Strategi Komunikasi Krisis

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:47 WIB

Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Perlu Diversifikasi Energi, Tak Cukup Kendaraan Listrik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:53 WIB

RSUD Bakti Pajajaran Perkuat Layanan DSA dan Cath Lab Biplane

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:42 WIB

Bupati Bogor Rudy Susmanto Siap Bersinergi dengan Kapolda Jabar yang Baru, Jaga Keamanan dan Kondusivitas Wilayah

Berita Terbaru

Jawa Barat

RSUD Bakti Pajajaran Perkuat Layanan DSA dan Cath Lab Biplane

Rabu, 14 Okt 2026 - 20:53 WIB